Thursday, October 23, 2014

Jogjakarta, Jakarta, California, Surga

1.
Aku tak bisa menulis lagi. Aku tak punya daya lagi. Pikiranku senyap dan berkabut. Tak ada kata-kata yang bisa kumunculkan dan kutata barang satu paragraf saja. Bagi seorang yang menggantungkan nyawanya pada apa yang ia tulis, ini sungguh celaka. Kutengok senja di balik jendela kusam rumah kami, hanya tetap menjadi semburat oranye terbiaskan pada kaca yang buram berdebu. Tak ada puisi, tak ada sepotong dirinya yang bisa kulacurkan untuk menjadi sebuah roman picisan demi sesuap nasi.

"Jadi kuli saja lah Mas! Cari pekerjaan lain yang lebih ada duitnya!" - tahun kedua.

"Mana honormu, Mas? Masakan aku harus makan kertas-kertasmu itu untuk makan siang?" - tahun ketiga.

"Dasar laki-laki tak berguna! Sampah, mirip tulisan-tulisanmu itu. Mati saja lah kau, Mas. Demi Tuhan, mati saja kau!" - tahun kelima.

Mantan istriku benar, menikahi penulis (tentu saja yang medioker seperti aku ini) tak bisa mengharapkan hidup enak. Jangankan hidup enak, untuk bertahan hidup saja susah. Satu-satunya misteri adalah bagaimana ia bisa tahan lima tahun hidup dengan seorang sampah. Beruntunglah ia sudah pergi. Anak kami satu-satunya dibawa serta. Kudengar ia kawin lagi dengan seorang juragan beras.

Dulu ketika kami masih pacaran, sering kutuliskan ia puisi. Kadang-kadang, jika honor menulis sudah tiba, aku mentraktirnya sate kambing Cak Usman dekat terminal. Baru setelah novelku terbit, aku memberanikan diri untuk melamarnya. Orang tuanya, bak peramal nasib, melarang anaknya menikah denganku. "Bakal hidup susah kamu kawin sama dia," kata mereka, cuma tak di hadapanku. Mantan istriku nekat saja. Mungkin dulu ia masih mabuk puisi, sampai akhirnya hidup menampar pipinya hingga sadar beberapa tahun kemudian.

Kupandangi foto mantan istri dan anakku. Ah, anakku. Pastilah sekarang ia hidup lebih baik, makan enak, cukup minum susu, punya banyak mainan. Perutnya mungkin agak tambun, tak seperti ayahnya yang kurus kering dimakan kegagalan. Ibunya tak pernah mengijinkanku bertemu dengannya.

"Ndak dengan penampilanmu yang lecek seperti gembel ini," ujarnya.

"Nanti kalau kau mampu membawakannya mainan baru," katanya sambil mendengus pada suatu waktu yang lain, "kutebak sekarang saja kau tak punya uang untuk makan."

Royalti novelku sudah habis, dan penerbit tak mau mencetaknya ulang.

"Bapak harus ngerti, sekarang sedang jamannya penulis Twitter. Bapak tahu kan?"

"Ndak, saya ndak mengerti."

Ia, salah satu editor merangkap marketing di penerbit yang menerbitkan novelku, mengambil sebuah buku. Sampulnya cerah dengan gambar warna-warni.

"Nah, Anda kalau mau laris, bikinlah Twitter dulu. Kalau bisa punya follower berjuta-juta, di-retweet ribuan kali sehari. Pasti laku keras, seperti buku-buku ini."

"Buku apa ini, kok isinya cuma sepotong-sepotong kalimat pendek? Apakah ini puisi? Kok ndak nyambung satu dengan lain?"

"Ini namanya tweet. Memang cuma 140 karakter saja. Tapi yang seperti ini yang sedang naik daun."

Aku menyerah.

Honor menulis lepas kian seret, begitu banyak penulis muda yang lebih pandai dan lebih mengetahui jaman. Kurasa sudah ribuan naskahku ditolak, dan sekarang dikutuk pula aku dengan pikiran yang mati.

Maka, begini saranku: jika kau ingin jadi penulis, jangan percaya kata-kata "Thomas Alva Edison mengalami kegagalan 10.000 kali dan tetap berusaha." Jangan percaya motivasi tentang bajingan tengik itu, yang mencuri ide tentang lampu pijarnya dari Heinrich Goebel dan Joseph Swan (begitu yang pernah kubaca suatu waktu). Bila kau ingin jadi penulis, jadilah seseorang yang tidak medioker, jika kau tak ingin menjadi sepertiku. Jika medioker adalah dirimu, maka - seperti yang diidam-idamkan orang tua mantan istriku - jadilah pegawai pemerintah saja. Tak perlu menjadi hebat untuk bisa bertahan hidup, bahkan untuk menjadi kaya.

Senja makin temaram. Matahari belum benar-benar tenggelam. Semoga besok ada yang mau memberikan harga pada jendela yang kusam.

2.

Sudah ada lima puntung rokok di atas asbak plastik warna hijau muda. Aku satu-satunya pengunjung di kantin ini. Jam menunjukkan pukul setengah sembilan lewat. Kuangkat lagi cangkir di hadapanku, tak tersisa apa-apa selain ampas kopi pekat. Saatnya kembali ke dalam penjara.

"Sudah selesai, laporannya?" ujar seseorang setengah berteriak di balik kubikel. Ternyata adalah pimpinanku.

"S-sudah, Pak. Ini laporannya." Sambil tergopoh-gopoh aku menuju mejanya.

"Kenapa baru sekarang? Saya 'kan sudah minta dari kemarin!"

Beliau tidak ada di tempat selepas makan siang kemarin.

"Ini apa ini? Salah, salah di sini. Ini salah juga. Harusnya seperti ini. Perbaiki dulu! Yang benar saja!"

Beliau tak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia mau.

"Baik, Pak. Akan saya selesaikan segera. Mohon maaf. Selamat siang."

"Hmm."

Segera berarti setidak-tidaknya besok pagi, karena kuyakin, seperti biasanya, ia akan menghilang setelah makan siang.

Dua klik pada ikon bergambar huruf W warna biru, terbukalah aplikasi bajakan pemroses dokumen. Sedikit ubah di sana sini, selesai sudah tugasku sehari.

Bekerja menjadi pegawai pemerintah hanyalah nikmat bagi orang-orang kolot dan kambing-kambing gembalaan orang-orang kolot tadi. Kambing-kambing favoritnya tentu saja yang menurut, yang diam, sendhika dhawuh diberi tugas apapun itu. Kambing yang tak suka bikin onar. Asalkan dapat rumput segar tiap awal bulan, cukup untuk anak, serta suami atau istri (kalau bisa ada sisa lebih untuk selingkuhan), maka mereka akan tenang. Beres pula pekerjaan. Tidak perlu berkelana jauh-jauh dari ladang rumput dan sang gembala kolot.

Aku pun, dengan begitu, secara otomatis adalah seorang kambing. Tentu, sebelum menjadi kambing seperti ini aku punya mimpi-mimpi besar, idealisme. Namun apalah kemewahan anak muda bernama mimpi dan idealisme jika pragmatisme dan kemapanan bisa mengisi dompet - sampai mati kelak - setiap bulan. Maka biar saja aku menjadi kambing, yang kubutuhkan hanyalah bagaimana tidak menjadi bosan.

Headset tersumpal pada telinga. Dua klik pada ikon browser sejuta umat bergambar rubah api. Satu tab untuk mengunduh porno, satu tab untuk situs video bukan porno yang seringkali diblokir, dua tab situs jejaring sosial, dan terakhir satu lagi untuk situs penampung gambar-gambar meme dari internet. Yang kurang hanyalah menyeduh kopi instan. Sungguh dekaden, namun peduli setan. Semuanya bebas blokir. Puji Tuhan sang gembalaku yang kolot rupanya adalah seorang liberal. Atau mungkin dia hanyalah seorang yang mesum, atau tak peduli sama sekali dengan internet.

Dulu aku menganggap kubikel ini adalah penjara bagi tubuh dan pikiran, sebuah tempat di mana sel-sel otak melayu karena jarang digunakan. Namun, lama-kelamaan aku jadi malas melawan. Lama-kelamaan aku mulai merasa nyaman. Teman-temanku mulai menggerutu karena tunjangan yang tak naik-naik dan bonus akhir tahun yang tak kunjung diberikan, tetapi aku tak peduli. Sudahlah, yang penting cukup, buat apa memikirkan inflasi, begitu pikirku. Aku mulai menyukai penjara ini, juga kota ini, dengan jalanannya yang mampat seperti got. Dengarlah klakson yang bersahut-sahutan bagai simfoni. Nikmatilah asap-asap menggumpal dari knalpot, tetapi jangan menghisapnya banyak-banyak nanti kau cepat mati. Tak mengapa membusuk perlahan-lahan di sini, demi istri di rumah kontrakan, demi orang tua yang bangga di kampung.

Lima belas menit sebelum pulang. Masih ada cukup waktu untuk melihat gambar-gambar meme sebelum sebentar lagi membelah jalanan. Lihat, bukankah gambar anak kucing ini menggemaskan?

3.

Belum lewat lima menit dari pukul dua siang, sebuah notifikasi muncul di layar ponselku. Ada yang meminta jasaku di Castro Street. Ya Tuhan, hari sedang terik-teriknya begini. Kusetir mobilku pelan-pelan menuju Graham School, lalu belok menyusuri Castro Street, lewat Gereja St. Joseph, hingga sampai ke tempat yang ditunjukkan aplikasi tersebut. Sepertinya ini kantor pusat sebuah situs gambar-gambar lucu yang sekarang sedang booming. Sedang viral, demikan kata orang-orang itu. Kubaca di sebuah berita, situs ini diminati oleh para pemodal di Silicon Valley. Mereka menawari pemiliknya hampir puluhan juta dolar. Sebuah angka yang tak mungkin kucapai, biar bekerja memeras keringat setiap hari sampai mati sekalipun.

Seorang pria berkemeja flanel dan berkacamata bingkai tebal membuka pintu. Ia yang memesan taksiku.

"Selamat siang. Terima kasih telah menggunakan jasa kami. Mana yang hendak Anda tuju?"

"Stasiun Whisman, please."

"Baik, Tuan."

"Anda bekerja di sana tadi?" Aku mencoba berbasa-basi.

Ia tak menjawab, sibuk menggeser-geserkan telunjuknya di layar ponsel pintarnya. Aku menganggapnya sebagai sebuah perintah untuk diam.

Tak ada kata-kata lagi sampai ke Stasiun Whisman. Hanya terima kasih sebelum ia menutup pintu mobilku.

Hidup semakin susah dengan semakin rakus dan agresifnya orang-orang di Silicon Valley. "Tetaplah lapar, tetaplah nekat!" demikian mantra yang sering diulang-ulang di sini. Orang-orang sepertiku hanyalah properti yang memuaskan rasa lapar orang-orang cerdas dan melek teknologi itu. Sampai siang ini, jika dirata-rata tiap jamnya, yang kuperoleh bahkan belum menyentuh separuh dari upah minimum. Tahun lalu, setiap milnya dihargai 2,75 dolar. Sekarang, demi sebuah kompetisi menguasai pasar (karena rupanya ada perusahaan lain yang coba bikin bisnis yang sama), si empunya aplikasi memangkas upah sopir-sopir seperti aku ini menjadi hanya 1,1 dolar setiap milnya. Belum jika kau perhitungkan asuransi, bahan bakar, dan biaya perawatan mobil yang harus kami tanggung sendiri. Tahun ini, aku harus bekerja 18 jam sehari agar bisa menyamai jumlah uang seperti yang kudapat tahun lalu hanya dengan bekerja 7-8 jam. 18 jam sehari, bayangkan, tiga perempat hidupku habis di jalan demi uang yang tak seberapa.

Aku mengecek layar ponsel. Rupanya ada pesan broadcast, katanya minggu depan kami para sopir mau mogok jalan.

"Mereka yang di New York dan Santa Monica sudah setuju. Mari kita berjuang demi kehidupan kita!" begitu sisa pesannya. Beruntunglah mereka yang melarang aplikasi pemesan taksi ini di negaranya. Setidaknya, ada jaminan bahwa mereka para pemilik modal tidak seenaknya memperlakukan sesama manusia.

Aku hanyalah seorang imigran generasi kedua. Ibuku berasal dari selatan, bekerja di sebuah laundromat sampai sekarang. Beruntung dia dinikahi warga negara sini. Sialnya, dia lantas ditinggal pergi. Hampir saja aku diaborsi, begitu ceritanya tiap kali ia marah kepadaku sambil melemparkan apa saja yang bisa dijangkau tangannya.

Mempunyai warna kulit yang berbeda sungguh menyusahkan. Jika bisa tentu aku memilih pekerjaan lain yang lebih ringan dengan bayaran sama, atau setidaknya pekerjaan yang sama dengan bayaran lebih besar. Aku ingin penghidupan yang layak, bisa bekerja tanpa harus khawatir bagaimana membayar listrik dan sewa. Aku juga ingin bisa memiliki kekasih, lalu berkeluarga, lalu punya anak. Ya, aku ingin sekali punya anak dan menghidupi mereka tanpa perlu berhutang sana-sini. Akan tetapi, seperti warna kulit, aku tak bisa memilih nasib.

Namun aku bisa berjuang, menuntut apa yang sudah dirampas.

4.

Aku beruntung tak pernah dilahirkan. Aku mati bersama ibuku di sebuah kebun pinggir kali. Ia dibunuh ayahku, teman sekelasnya di sekolah menengah, di suatu petang tiga hari setelah ibuku mengaku kalau dia hamil. Ayah dan ibuku memang sama-sama bodoh. Mungkin mereka juga belum diberitahu tentang apa yang bisa terjadi setelah bercinta tanpa kontrasepsi. Ia mengajak ibuku membahas tentangku, namun ia malah memukul kepala ibuku dengan balok kayu. Ia lantas lari ke pulau seberang, dan diciduk polisi delapan hari kemudian di dekat pelabuhan. Kakek dan nenekku menangis meraung-raung di pengadilan. Ayahku menunduk tak berani memandang ke depan. Aku masih bisa melihatnya meringkuk di penjara sampai sekarang. Kadang-kadang di malam hari ia menangis tanpa sebab, menghadap tembok dengan suara tangis yang lirih. Sepertinya aku masih bisa melihatnya di situ untuk beberapa tahun ke depan. Semoga saja ia tak lagi bodoh setelah keluar dari penjara nanti.

Aku sendiri belum pernah melihat ibuku di sini. Mungkin dia ada di sini dan pernah melihatku, tetapi tak mengenali wajahku, seorang anak yang tak pernah dilahirkannya.

Aku sungguh beruntung tak pernah dilahirkan. Kulihat di bawah sana berjuta anak-anak mengalami perlakuan yang keji. Ayah memerkosa anaknya. Ibu berkali-kali memukuli anaknya. Pemilik pabrik sepatu, pemilik kebun cokelat, pemilik tambang berlian, pemilik pemintalan karpet, seakan kompak memaksa anak-anak bekerja tanpa dibayar, dalam tempat penuh uap bahan kimia berbahaya. Yang lain mati karena bom, peluru, ranjau. Banyak pula yang sengaja menyusulku di sini karena tak tahan dengan perlakuan teman-temannya. Kami memang adalah yang paling lemah, dan sialnya banyak yang lebih suka menginjak-injak kami alih-alih melindungi.

Aku melihat anak-anak di bawah sana tumbuh menjadi manusia yang rusak. Banyak juga yang tumbuh dirundung kesedihan, marah karena mimpi masa kecil remuk oleh keadaan. Cita-cita yang kandas, ketidakpuasan, kekecewaan, lihatlah bagaimana anak-anak ini tumbuh menjadi manusia yang patah. Sesungguhnya, aku pun tak pernah tahu alasan sepasang manusia bisa memaksa kami untuk turun ke bumi. Kami tak pernah ditanyai terlebih dahulu apakah kami memang benar-benar ingin hidup di bawah sana daripada di sini. Sungguh egois manusia itu. Ya, mungkin ada beberapa dari kami yang tak pernah dikehendaki hadirnya, seperti hasil perkosaan, misalnya. Aku tak bisa menyalahkan. Aku juga tak bisa menyalahkan mereka yang memutuskan untuk terus merawat kami. Pada akhirnya, bumi manusia yang pernah diberitahukan malaikat kepadaku ternyata tak seindah yang dibisikkannya ke telinga kami. Mungkin itu sebabnya kami semua menangis saat dilahirkan, karena dari awal mula saja kami sudah menerima kebohongan. Syukurlah aku tak sempat menangis.

Aku beruntung tak pernah dilahirkan di dunia yang penuh celaka. Karena di sini hanya ada damai sejahtera. Semoga yang di bawah sana juga berlimpah dengan damai sejahtera.

No comments:

Post a Comment