1.
Aku tak bisa menulis lagi. Aku tak punya daya lagi.
Pikiranku senyap dan berkabut. Tak ada kata-kata yang bisa kumunculkan
dan kutata barang satu paragraf saja. Bagi seorang yang menggantungkan
nyawanya pada apa yang ia tulis, ini sungguh celaka. Kutengok senja di
balik jendela kusam rumah kami, hanya tetap menjadi semburat oranye
terbiaskan pada kaca yang buram berdebu. Tak ada puisi, tak ada sepotong
dirinya yang bisa kulacurkan untuk menjadi sebuah roman picisan demi
sesuap nasi.
"Jadi kuli saja lah Mas! Cari pekerjaan lain yang lebih ada duitnya!" - tahun kedua.
"Mana honormu, Mas? Masakan aku harus makan kertas-kertasmu itu untuk makan siang?" - tahun ketiga.
"Dasar
laki-laki tak berguna! Sampah, mirip tulisan-tulisanmu itu. Mati saja
lah kau, Mas. Demi Tuhan, mati saja kau!" - tahun kelima.
Mantan
istriku benar, menikahi penulis (tentu saja yang medioker seperti aku
ini) tak bisa mengharapkan hidup enak. Jangankan hidup enak, untuk
bertahan hidup saja susah. Satu-satunya misteri adalah bagaimana ia bisa
tahan lima tahun hidup dengan seorang sampah. Beruntunglah ia sudah
pergi. Anak kami satu-satunya dibawa serta. Kudengar ia kawin lagi
dengan seorang juragan beras.
Dulu ketika kami masih
pacaran, sering kutuliskan ia puisi. Kadang-kadang, jika honor
menulis sudah tiba, aku mentraktirnya sate kambing Cak Usman dekat
terminal. Baru setelah novelku terbit, aku memberanikan diri untuk
melamarnya. Orang tuanya, bak peramal nasib, melarang anaknya menikah
denganku. "Bakal hidup susah kamu kawin sama dia," kata mereka, cuma tak di hadapanku. Mantan istriku nekat saja. Mungkin dulu ia masih mabuk puisi, sampai akhirnya hidup
menampar pipinya hingga sadar beberapa tahun kemudian.
Kupandangi
foto mantan istri dan anakku. Ah, anakku. Pastilah sekarang ia hidup
lebih baik, makan enak, cukup minum susu, punya banyak mainan. Perutnya
mungkin agak tambun, tak seperti ayahnya yang kurus kering dimakan
kegagalan. Ibunya tak pernah mengijinkanku bertemu dengannya.
"Ndak dengan penampilanmu yang lecek seperti gembel ini," ujarnya.
"Nanti
kalau kau mampu membawakannya mainan baru," katanya sambil mendengus
pada suatu waktu yang lain, "kutebak sekarang saja kau tak punya uang
untuk makan."
Royalti novelku sudah habis, dan penerbit tak mau mencetaknya ulang.
"Bapak harus ngerti, sekarang sedang jamannya penulis Twitter. Bapak tahu kan?"
"Ndak, saya ndak mengerti."
Ia, salah satu editor merangkap marketing di penerbit yang menerbitkan novelku, mengambil sebuah buku. Sampulnya cerah dengan gambar warna-warni.
"Nah, Anda kalau mau laris, bikinlah Twitter dulu. Kalau bisa punya follower berjuta-juta, di-retweet ribuan kali sehari. Pasti laku keras, seperti buku-buku ini."
"Buku apa ini, kok isinya cuma sepotong-sepotong kalimat pendek? Apakah ini puisi? Kok ndak nyambung satu dengan lain?"
"Ini namanya tweet. Memang cuma 140 karakter saja. Tapi yang seperti ini yang sedang naik daun."
Aku menyerah.
Honor
menulis lepas kian seret, begitu banyak penulis muda yang lebih pandai
dan lebih mengetahui jaman. Kurasa sudah ribuan naskahku ditolak, dan sekarang
dikutuk pula aku dengan pikiran yang mati.
Maka, begini
saranku: jika kau ingin jadi penulis, jangan percaya kata-kata "Thomas
Alva Edison mengalami kegagalan 10.000 kali dan tetap berusaha." Jangan
percaya motivasi tentang bajingan tengik itu, yang mencuri ide tentang
lampu pijarnya dari Heinrich Goebel dan Joseph Swan (begitu yang pernah
kubaca suatu waktu). Bila kau ingin jadi penulis, jadilah seseorang yang tidak
medioker, jika kau tak ingin menjadi sepertiku. Jika medioker adalah
dirimu, maka - seperti yang diidam-idamkan orang tua mantan istriku -
jadilah pegawai pemerintah saja. Tak perlu menjadi hebat untuk bisa
bertahan hidup, bahkan untuk menjadi kaya.
Senja makin temaram. Matahari belum benar-benar tenggelam. Semoga besok ada yang mau memberikan harga pada jendela yang kusam.
2.
Sudah
ada lima puntung rokok di atas asbak plastik warna hijau muda. Aku
satu-satunya pengunjung di kantin ini. Jam menunjukkan pukul setengah
sembilan lewat. Kuangkat lagi cangkir di hadapanku, tak tersisa apa-apa
selain ampas kopi pekat. Saatnya kembali ke dalam penjara.
"Sudah selesai, laporannya?" ujar seseorang setengah berteriak di balik kubikel. Ternyata adalah pimpinanku.
"S-sudah, Pak. Ini laporannya." Sambil tergopoh-gopoh aku menuju mejanya.
"Kenapa baru sekarang? Saya 'kan sudah minta dari kemarin!"
Beliau tidak ada di tempat selepas makan siang kemarin.
"Ini apa ini? Salah, salah di sini. Ini salah juga. Harusnya seperti ini. Perbaiki dulu! Yang benar saja!"
Beliau tak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia mau.
"Baik, Pak. Akan saya selesaikan segera. Mohon maaf. Selamat siang."
"Hmm."
Segera berarti setidak-tidaknya besok pagi, karena kuyakin, seperti biasanya, ia akan menghilang setelah makan siang.
Dua
klik pada ikon bergambar huruf W warna biru, terbukalah aplikasi
bajakan pemroses dokumen. Sedikit ubah di sana sini, selesai sudah
tugasku sehari.
Bekerja menjadi pegawai pemerintah
hanyalah nikmat bagi orang-orang kolot dan kambing-kambing gembalaan
orang-orang kolot tadi. Kambing-kambing favoritnya tentu saja yang
menurut, yang diam, sendhika dhawuh diberi tugas apapun itu.
Kambing yang tak suka bikin onar. Asalkan dapat rumput segar tiap awal
bulan, cukup untuk anak, serta suami atau istri (kalau bisa ada sisa
lebih untuk selingkuhan), maka mereka akan tenang. Beres pula pekerjaan.
Tidak perlu berkelana jauh-jauh dari ladang rumput dan sang gembala
kolot.
Aku pun, dengan begitu, secara otomatis adalah
seorang kambing. Tentu, sebelum menjadi kambing seperti ini aku punya
mimpi-mimpi besar, idealisme. Namun apalah kemewahan anak muda bernama
mimpi dan idealisme jika pragmatisme dan kemapanan bisa mengisi dompet -
sampai mati kelak - setiap bulan. Maka biar saja aku menjadi kambing,
yang kubutuhkan hanyalah bagaimana tidak menjadi bosan.
Headset tersumpal pada telinga. Dua klik pada ikon browser sejuta umat bergambar rubah api. Satu tab untuk mengunduh porno, satu tab untuk situs video bukan porno yang seringkali diblokir, dua tab situs jejaring sosial, dan terakhir satu lagi untuk situs penampung gambar-gambar meme
dari internet. Yang kurang hanyalah menyeduh kopi instan. Sungguh
dekaden, namun peduli setan. Semuanya bebas blokir. Puji Tuhan sang
gembalaku yang kolot rupanya adalah seorang liberal. Atau mungkin dia
hanyalah seorang yang mesum, atau tak peduli sama sekali dengan
internet.
Dulu aku menganggap kubikel ini adalah
penjara bagi tubuh dan pikiran, sebuah tempat di mana sel-sel otak
melayu karena jarang digunakan. Namun, lama-kelamaan aku jadi malas
melawan. Lama-kelamaan aku mulai merasa nyaman. Teman-temanku mulai menggerutu karena tunjangan yang tak naik-naik dan bonus akhir tahun yang tak kunjung diberikan, tetapi aku tak peduli. Sudahlah, yang penting cukup, buat apa memikirkan inflasi, begitu pikirku. Aku mulai menyukai
penjara ini, juga kota ini, dengan jalanannya yang mampat seperti got.
Dengarlah klakson yang bersahut-sahutan bagai simfoni. Nikmatilah
asap-asap menggumpal dari knalpot, tetapi jangan menghisapnya
banyak-banyak nanti kau cepat mati. Tak mengapa membusuk perlahan-lahan
di sini, demi istri di rumah kontrakan, demi orang tua yang bangga di
kampung.
Lima belas menit sebelum pulang. Masih ada cukup waktu untuk melihat gambar-gambar meme sebelum sebentar lagi membelah jalanan. Lihat, bukankah gambar anak kucing ini menggemaskan?
3.
Belum
lewat lima menit dari pukul dua siang, sebuah notifikasi muncul di
layar ponselku. Ada yang meminta jasaku di Castro Street. Ya Tuhan, hari
sedang terik-teriknya begini. Kusetir mobilku pelan-pelan menuju Graham
School, lalu belok menyusuri Castro Street, lewat Gereja St. Joseph,
hingga sampai ke tempat yang ditunjukkan aplikasi tersebut. Sepertinya
ini kantor pusat sebuah situs gambar-gambar lucu yang sekarang sedang booming. Sedang viral,
demikan kata orang-orang itu. Kubaca di sebuah berita, situs ini
diminati oleh para pemodal di Silicon Valley. Mereka menawari pemiliknya
hampir puluhan juta dolar. Sebuah angka yang tak mungkin kucapai, biar
bekerja memeras keringat setiap hari sampai mati sekalipun.
Seorang pria berkemeja flanel dan berkacamata bingkai tebal membuka pintu. Ia yang memesan taksiku.
"Selamat siang. Terima kasih telah menggunakan jasa kami. Mana yang hendak Anda tuju?"
"Stasiun Whisman, please."
"Baik, Tuan."
"Anda bekerja di sana tadi?" Aku mencoba berbasa-basi.
Ia
tak menjawab, sibuk menggeser-geserkan telunjuknya di layar ponsel
pintarnya. Aku menganggapnya sebagai sebuah perintah untuk diam.
Tak ada kata-kata lagi sampai ke Stasiun Whisman. Hanya terima kasih sebelum ia menutup pintu mobilku.
Hidup
semakin susah dengan semakin rakus dan agresifnya orang-orang di
Silicon Valley. "Tetaplah lapar, tetaplah nekat!" demikian mantra yang
sering diulang-ulang di sini. Orang-orang sepertiku hanyalah properti
yang memuaskan rasa lapar orang-orang cerdas dan melek teknologi itu.
Sampai siang ini, jika dirata-rata tiap jamnya, yang kuperoleh bahkan
belum menyentuh separuh dari upah minimum. Tahun lalu, setiap milnya
dihargai 2,75 dolar. Sekarang, demi sebuah kompetisi menguasai pasar
(karena rupanya ada perusahaan lain yang coba bikin bisnis yang sama),
si empunya aplikasi memangkas upah sopir-sopir seperti aku ini menjadi
hanya 1,1 dolar setiap milnya. Belum jika kau perhitungkan asuransi,
bahan bakar, dan biaya perawatan mobil yang harus kami tanggung sendiri.
Tahun ini, aku harus bekerja 18 jam sehari agar bisa menyamai jumlah
uang seperti yang kudapat tahun lalu hanya dengan bekerja 7-8 jam. 18
jam sehari, bayangkan, tiga perempat hidupku habis di jalan demi uang
yang tak seberapa.
Aku mengecek layar ponsel. Rupanya ada pesan broadcast, katanya minggu depan kami para sopir mau mogok jalan.
"Mereka
yang di New York dan Santa Monica sudah setuju. Mari kita berjuang demi
kehidupan kita!" begitu sisa pesannya. Beruntunglah mereka yang
melarang aplikasi pemesan taksi ini di negaranya. Setidaknya, ada
jaminan bahwa mereka para pemilik modal tidak seenaknya memperlakukan
sesama manusia.
Aku hanyalah seorang imigran generasi
kedua. Ibuku berasal dari selatan, bekerja di sebuah laundromat sampai
sekarang. Beruntung dia dinikahi warga negara sini. Sialnya, dia lantas
ditinggal pergi. Hampir saja aku diaborsi, begitu ceritanya tiap kali ia
marah kepadaku sambil melemparkan apa saja yang bisa dijangkau tangannya.
Mempunyai warna kulit yang berbeda sungguh menyusahkan.
Jika bisa tentu aku memilih pekerjaan lain yang lebih ringan dengan
bayaran sama, atau setidaknya pekerjaan yang sama dengan bayaran lebih
besar. Aku ingin penghidupan yang layak, bisa bekerja tanpa harus
khawatir bagaimana membayar listrik dan sewa. Aku juga ingin bisa
memiliki kekasih, lalu berkeluarga, lalu punya anak. Ya, aku ingin
sekali punya anak dan menghidupi mereka tanpa perlu berhutang sana-sini.
Akan tetapi, seperti warna kulit, aku tak bisa memilih nasib.
Namun aku bisa berjuang, menuntut apa yang sudah dirampas.
4.
Aku
beruntung tak pernah dilahirkan. Aku mati bersama ibuku di sebuah kebun
pinggir kali. Ia dibunuh ayahku, teman sekelasnya di sekolah menengah,
di suatu petang tiga hari setelah ibuku mengaku kalau dia hamil. Ayah
dan ibuku memang sama-sama bodoh. Mungkin mereka juga belum diberitahu
tentang apa yang bisa terjadi setelah bercinta tanpa kontrasepsi. Ia
mengajak ibuku membahas tentangku, namun ia malah memukul kepala ibuku
dengan balok kayu. Ia lantas lari ke pulau seberang, dan diciduk polisi
delapan hari kemudian di dekat pelabuhan. Kakek dan nenekku menangis
meraung-raung di pengadilan. Ayahku menunduk tak berani memandang ke
depan. Aku masih bisa melihatnya meringkuk di penjara sampai sekarang.
Kadang-kadang di malam hari ia menangis tanpa sebab, menghadap tembok
dengan suara tangis yang lirih. Sepertinya aku masih bisa melihatnya di
situ untuk beberapa tahun ke depan. Semoga saja ia tak lagi bodoh
setelah keluar dari penjara nanti.
Aku sendiri belum
pernah melihat ibuku di sini. Mungkin dia ada di sini dan pernah
melihatku, tetapi tak mengenali wajahku, seorang anak yang tak pernah
dilahirkannya.
Aku sungguh beruntung tak pernah
dilahirkan. Kulihat di bawah sana berjuta anak-anak mengalami perlakuan
yang keji. Ayah memerkosa anaknya. Ibu berkali-kali memukuli anaknya.
Pemilik pabrik sepatu, pemilik kebun cokelat, pemilik tambang berlian,
pemilik pemintalan karpet, seakan kompak memaksa anak-anak bekerja tanpa
dibayar, dalam tempat penuh uap bahan kimia berbahaya. Yang lain mati
karena bom, peluru, ranjau. Banyak pula yang sengaja menyusulku di sini
karena tak tahan dengan perlakuan teman-temannya. Kami memang adalah
yang paling lemah, dan sialnya banyak yang lebih suka menginjak-injak
kami alih-alih melindungi.
Aku melihat anak-anak di
bawah sana tumbuh menjadi manusia yang rusak. Banyak juga yang tumbuh
dirundung kesedihan, marah karena mimpi masa kecil remuk oleh keadaan.
Cita-cita yang kandas, ketidakpuasan, kekecewaan, lihatlah bagaimana
anak-anak ini tumbuh menjadi manusia yang patah. Sesungguhnya, aku pun
tak pernah tahu alasan sepasang manusia bisa memaksa kami untuk turun ke
bumi. Kami tak pernah ditanyai terlebih dahulu apakah kami memang
benar-benar ingin hidup di bawah sana daripada di sini. Sungguh egois
manusia itu. Ya, mungkin ada beberapa dari kami yang tak pernah
dikehendaki hadirnya, seperti hasil perkosaan, misalnya. Aku tak bisa
menyalahkan. Aku juga tak bisa menyalahkan mereka yang memutuskan untuk
terus merawat kami. Pada akhirnya, bumi manusia yang pernah
diberitahukan malaikat kepadaku ternyata tak seindah yang dibisikkannya
ke telinga kami. Mungkin itu sebabnya kami semua menangis saat
dilahirkan, karena dari awal mula saja kami sudah menerima kebohongan.
Syukurlah aku tak sempat menangis.
Aku beruntung tak
pernah dilahirkan di dunia yang penuh celaka. Karena di sini hanya ada
damai sejahtera. Semoga yang di bawah sana juga berlimpah dengan damai
sejahtera.