Lemari Sebagai Warisan yang
Berharga
Dasar narasi Lemantun cukup sederhana. Kita diajak untuk melihat sebuah keluarga
di mana sang ibu (Tatik Wardiono) hendak membagikan warisan
kepada lima orang anaknya: Eko, Dwi, Tri, Yuni dan Anto (diperankan oleh Den
Baguse Ngarsa, Agoes Kencrot, Freddy Rotterdam,
Titik Renggani, dan Triyanto Hapsoro).
Warisan tersebut bukanlah tanah atau rumah seperti yang lazim diwariskan orang tua
kepada anak-anaknya, melainkan lima buah lemari. Sang
ibu meminta Tri membuat undian untuk menentukan siapa yang dapat lemari yang
mana. Setelah dibagi, lemari-lemari itu harus dibawa pulang hari itu juga ke
rumah masing-masing, jika tak mau didenda oleh sang ibu. Di sepertiga terakhir
film kita melihat bagaimana mereka kebingungan mencari cara untuk membawa
pulang lemari tersebut. Untunglah Tri, si anak ketiga, dengan rajin dan sigap
membantu saudara-saudaranya. Ironisnya, Tri adalah yang kehidupannya paling
tidak sukses di antara mereka. Pekerjaannya “hanyalah” berjualan bensin. Ia pun
ditunjukkan tak memiliki gelar akademis seperti saudara-saudaranya yang lain. Rumah
sendiri pun ia tak punya.
Lalu apa motif sang ibu
mewariskan lemari-lemari tersebut? Lemari-lemari tersebut bukanlah lemari sakti
atau memiliki nilai jual tinggi. Mereka adalah kapsul-kapsul waktu, sebuah
penanda sejarah dengan nilai sentimental yang kuat. Yuni, misalnya yang sekarang
seorang dokter, dulunya adalah mahasiswi penggemar musik metal yang pecicilan ditandai
dari stiker-stiker band yang tertempel di lemari bekasnya.
Namun tak hanya itu, Wregas
memakai lemari sebagai simbolisasi atas rahim. Rahim adalah “rumah” pertama
setiap manusia yang lahir ke dunia. Memang, lemari-lemari tersebut pun dibeli
oleh sang ibu dan suaminya masing-masing setiap kali anaknya lahir. Dan dengan
membagikannya kembali ke anak-anaknya, ia mengingatkan anak-anaknya bahwa warisan
yang lebih berharga justru bukanlah rumah sebagai harta dalam bentuknya yang fisikal,
namun “rumah” dalam bentuknya yang metaforikal, yakni keluarga. Lagi-lagi, ironisnya
justru Tri lah yang paling apresiatif kepada warisan pemberian sang ibu. Di saat
anak-anak yang lain malah menjual lemari warisannya atau membiarkannya
teronggok tak terpakai, Tri menggunakannya untuk tempat berjualan bensin,
tempat di mana ia bisa memperoleh penghidupan.
Kritik yang Subtil tentang
Masyarakat
Drama keluarga bisa mengambil latar
masyarakat manapun. Karena Lemantun mengambil
latar masyarakat suku tertentu (Jawa), ia
tidak dapat diceraikan begitu saja dari konteks budaya yang menyertainya.
Oleh karena itu, cerita tentang keluarga bukanlah satu-satunya warna di film
ini.
Dalam tulisannya, “Benarkah Film
Indonesia Langka Akan Kritik Sosial?”, kritikus film Indonesia, Ekky Imanjaya
mengatakan:
“Banyak teori menyatakan bahwa film sebaiknya menjadi cerminan seluruh atau sebagian masyarakatnya, alias ada kritik sosial disana. Film sebaiknya mempresentasikan wajah masyarakatnya. Fungsinya sebagai arsip sosial yang menangkap Zeitgeist (jiwa zaman) saat itu. Dan penonton terasa dekat dengan tema yang hadir dan bahkan serasa melihat dirinya sendiri, bahkan diajak mentertawakan dirinya sendiri, mengkritik dirinya sendiri. Dengan menghadirkan wajah masyarakat yang sesungguhnya, maka film itu pelan-pelan akan memfungsikan dirinya menjadi sebuah kritik sosial.”
Lalu apa yang bisa kita baca dari Lemantun?
Di shot awal film, kita melihat Eko, Dwi, Yuni, Anto, dan ibu duduk di
atas kursi. Sedangkan Tri, anak yang paling tidak sukses, duduk di bawah. Hal
ini bisa kita telusuri pada budaya kraton, di mana Raja duduk di tahta
sedangkan rakyat jelata duduk lesehan di
bawah. Kemudian, budaya ini sampai sekarang masih terbawa di masyarakat modern
kita, di mana pembantu rumah tangga dianggap kurang ajar jika ia duduk di kursi
sama seperti majikannya. Posisi duduk di bawah ini dengan demikian menggambarkan
status sosial Tri yang lebih rendah daripada saudara-saudaranya.
Di masyarakat Jawa (atau saya
rasa di banyak masyarakat di Indonesia) memiliki pekerjaan tetap adalah sebuah
simbol kesuksesan. Banyak cerita mengenai anak-anak yang dipaksa untuk bekerja
kantoran atau menjadi PNS agar bisa dibanggakan oleh orang tuanya. Pernikahan juga
bisa menjadi penentu sukses tidaknya seseorang di masyarakat. Kita tentu masih bisa menemui sampai
sekarang cap “perawan tua” atau “perjaka tua” bagi mereka yang tak juga menikah
setelah melewati umur tertentu. Setelah menikah pun, masih ada sindiran bagi suami-istri
yang masih hidup menumpang di rumah orang tua. Maka, Tri di film ini adalah ikon ketidaksuksesan nomor wahid: ia tak punya pekerjaan tetap, istri, maupun rumah. Ia menjadi lebih rendah dari saudara-saudaranya sendiri, padahal
hanya dia yang dengan setia sehari-hari merawat ibunya yang sudah mengalami
kemunduran kesehatan karena usia. Lemantun
mengkritik praktik-praktik tidak egaliter dari masyarakat yang masih
menilai kesuksesan-kesuksesan seperti ini sebagai kriteria yang artifisial bagi tinggi-rendahnya derajat seseorang.
Lemantun mengkritik
pula fetisisme yang berlebihan kepada gelar akademik. Eko, Dwi, Yuni, dan Anto
menempelkan label nama lengkap beserta titel akademik pada lemari-lemari yang
diwarisinya. Hanya Tri yang labelnya cuma bertuliskan nama saja.
Di jaman penjajahan, pendidikan formal memang hanya didapat
oleh orang-orang tertentu saja. Ia kemudian menjadi serupa dengan gelar
aristokrasi, sebuah tanda penghormatan yang mengundang rasa segan dan hormat. Pendidikan
formal kemudian seringkali melahirkan elit-elit baru dengan sikapnya yang
arogan. Di sini Lemantun kemudian menyentil mentalitas yang rupanya masih
ada sampai sekarang. Ini adalah kritik kepada masyarakat yang secara linguistik
menyematkan privilese melalui gelar dan mempersetankan nilai-nilai utama dari
pendidikan: kesederhanaan dan kerendahan hati, seperti padi yang makin berisi
makin merunduk.
Film ini juga menggambarkan budaya masyarakat Jawa yang menjunjung ewuh-pekewuh (sungkan). Sebagai orang-orang
berduit, Eko dan saudara-saudaranya (kecuali Tri) sadar betul bahwa lemari mereka tak lebih adalah barang rongsokan. Pun juga kita
bisa saksikan bahwa mereka memang mengenyahkan lemari-lemari tersebut pada
akhirnya. Akan tetapi, di adegan-adegan sebelumnya anak-anak ini beberapa kali mengatakan “Apik iki!” (“Bagus
ini!”) saat melihat lemari-lemari tadi di rumah ibunya. Ini tentu wajah
wong Jawa yang seringkali dianggap hipokrit,
yang memuji sesuatu meskipun sebenarnya jelek, yang gampang merasa tak enakan (“Aduh
malah ngrepoti…” “Ndak, kok, ndak ngrepoti…”), dan sebagainya.
Apakah ini stereotipikal? Tidak juga, karena film ini beserta
keseluruhan tokoh dan latarnya adalah potret sebuah budaya yang masih jamak di
masyarakat. Dengan meminjam kata-kata Ekky Imanjaya, Lemantun mengajak penonton melihat
dirinya sendiri, mentertawakan dirinya sendiri, dan mengkritik dirinya sendiri: apakah kultur sadar kelas yang diturunkan dari jaman
feodal masih relevan sampai sekarang? Apakah kesuksesan material dan
edukasional adalah satu-satunya tolok ukur untuk menentukan nilai seseorang di
masyarakat? Betulkah menjaga keharmonisan mensyaratkan seseorang untuk tidak
mengatakan yang sebenarnya?
Meskipun demikian, Lemantun tak
lantas terseret ke dalam pusaran melodrama. Jika melodrama bergantung pada karakter-karakter
stereotipikal, musik yang menyayat hati, atau dialog yang muluk-muluk (stilted)
dengan nuansa sentimentalitas yang berlebih (overwrought sentimentality), maka Lemantun terlihat lebih straightforward.
Wregas dan timnya menggarap Lemantun
dengan efisien. Tidak ada shot yang rasanya
percuma sehingga perlu dibuang. Tidak ada musik yang menenggelamkan gambar,
sehingga adegan di mana Tri merangkak masuk ke dalam lemari atau saat ia menggendong
ibunya ke luar rumah memiliki emosi yang kuat alih-alih sekedar menjadi adegan-adegan
cengeng.
Lemantun tidak
lantas mendemonisasi saudara-saudara Tri dengan karikatur anak-anak durhaka.
Sebaliknya, mereka adalah gambaran anak-anak kebanyakan, yang kadang-kadang
egois, yang kadang-kadang lupa dengan keluarga jika sudah tersita pekerjaan dan
rumah tangganya sendiri. Film ini juga pada akhirnya tidak menjadi sebuah
hagiografi atas sosok Tri, betapapun kehidupannya nampak menyedihkan jika
dibandingkan saudara-saudaranya yang lain.
Walaupun tidak ada karakter yang berkembang (karena durasinya
juga hanya 21 menit), semua karakternya believable
serta dimainkan dengan pengendalian (restraint)
akting yang konsisten. Hal ini mungkin terbantu oleh para pemerannya yang
merupakan pemain-pemain teater dengan akting yang sudah terasah. Dialog-dialog di film ini merefleksikan reaksi-reaksi yang biasa dilakukan orang apabila ia dihadapkan pada situasi yang sama. Lelucon-lelucon
yang menjadi momen-momen jenaka (comic
relief) pun tak lalu dibuat-buat atau diminutif seperti di film-film
Raditya Dika
Lemantun bisa jadi awalnya
hanya dibuat sebagai tugas akhir Wregas di Institut Kesenian Jakarta. Akan
tetapi, ada keseriusan, ada sikap yang diambil sang sutradara mengenai keluarga
dan kultur orang Jawa, serta ada eksekusi yang profesional di sana. Tidaklah
berlebihan rasanya untuk menobatkan film ini menjadi juara.